Showing posts with label Fisiologi Hewan. Show all posts
Showing posts with label Fisiologi Hewan. Show all posts

3 Sifat Membran Sel: Impermeabel, Semipermiabel, dan Permeabel

Telah diketahui bahwa proses osmosis terjadi pada membran sel yang bersifat selektif permeabel,. Berdasarkan kemampuannya untuk melewatkan suatu zat, sifat membran sel terbagi atas 3 jenis, diantaranya:
  •  Impermeabel
Suatu keadaan dimana semua zat yang ada di luar sel tidak dapat masuk ke dalam sel karena adanya mekanisme penolakan oleh sel.
  • Semipermeabel
Suatu keadaan dimana hanya zat – zat tertentu yang hanya dibutuhkan oleh sel saja yang dapat masuk, sedangkan zat lainnya tidak dapat masuk. Keadaan inilah yang lazim ditemui pada semua jenis sel.
  • Permeabel
Suat keadaan dimana segala macam zat yang ada d luar sel dapat masuk ke dalam sel. Keadaan ini biasa ditemui pada sel – sel yang membrannya sudah rusak sehingga sel tidak dapat bertahan hidup.

Faktor Pemicu Terjadinya Osmosis

Umumnya pada sel-sel yang masih hidup ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya  proses osmosis, faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut:

  1. Konsentrasi air dan zat terlarut yang ada di dalam sel dan luar sel;
Osmosis akan terjadi dari zat yang berkonsentrasi pelarut tinggi dan konsentrasi zat terlarutnya rendah menuju zat yang berkonsentrasi pelarut rendah dan konsentrasi zat terlarutnya tinggi.
  2. Ketebalan membran;
Makin tipis membran, makin cepat proses difusi
  3.  Suhu;
Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi untuk bergerak dengan lebih cepat. Maka, semakin cepat pula osmosisnya.
  4. Keterlarutan lipid.

Molekul yang mempunyai keterlarutan yang tinggi meresap lebih cepat daripada molekul yang kelarutan yang rendah seperti lipid. Jika kadar resapan bagi dua bahan yang sama saiz molekul dibandingkan, bahan yang lebih larut dalam lipid akan meresap lebih cepat daripada bahan yang mempunyai kelarutan yang rendah.


Pengertian Gerak Refleks Menurut Frandson dan Soegiri

  • Pengertian Gerak Refleks Menurut Frandson

Refleks adalah suatu respon organ efektor (otot maupun kelenjar) yang bersifat otomatis atau tanpa sadar terhadap suatu stimulus tertentu. Respon tersebut melibatkan suatu rantai yang terdiri atas sekurang-kurangnya dua neuron, membentuk suatu busur refleks (reflex arc). Dua neuron yang penting dalam suatu busur refleks adalah neuron eferen, sensoris atau reseptor, serta neuron eferen, motoris atau efektor. Umumnya satu atau lebih neuron penghubung (interneuron) terletak diantara neuron reseptor dan neuron efektor.

Meskipun refleks melibatkan berbagai bagian otak dan sistem syaraf otonom, namun ada refleks yang paling sederhana adalah refleks spinal. Suatu refleks spinal yang khas adalah refleks rentang (stretch reflex) yang digambarkan dengan pemukulan ligamentum patela (suatu tendon) sehingga menyebabkan otot lutut terentang (refleks ini disebut juga knce jerk),
( Frandson, 1992).

  • Pengertian Gerak Refleks Menurut Soegiri

Refleks yang ada pada waktu lahir dan lazim bagi manusia disebut refleks turunan. Refleks lain yang diperoleh karena pengalaman disebut refleks bersyarat. Kebutuhan anatomis minimum untuk perilaku refleks adalah neuron sensori dengan reseptor untuk menerima rangsangan, yang dihubungkan oleh sinaps ke neuron motorik yang dilekatkan pada suatu otot atau efektor lain, seperti refleks regang ekstensor. Jenis lung-refleks yang paling sederhana ini disebut monosinaptik, karena hanya terdapat satu sinaps antara neurun sensorik dan neuron motorik. 

Lung-refleks yang lebih lazim mempunyai satu atau lebih interneuron antara neuron motorik dan neuron sensorik. Satu contoh khas di mana rangsangan pada reseptor meyebabkan kontraksi sebuah otot adalah refleks lutut. Jika tendon lutut dipukul dengan garputala, dan karena itu teregang, maka reseptor dalam tendon tersebut dirangsang; suatu implus menjalar melewati lung refleks ke sum-sum tulang belakang lalu kembali lagi; maka otot yaang terpaut pada tendon tersebut berkontraksi yang mengakibatkan menjulurnya kaki secara tiba-tiba, (Soegiri, 1984).


SUMBER REFERENSI PENDUKUNG:
  • Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta: Gadja Mada University.
  • Soegiri, Nawangsari. 1984. Zoologi Umum jilid 1. Bogor: Institut Pertanian Bogor. 


Gerak Refleks Pada Manusia: Summasi, Fasilitas, dan Inhibitor

Refleks sebagai integarasi sinaps memiliki bagian-bagian penting diantaranya yaitu serabut saraf sensorik-saraf spinal akar dorsalis-interneuron-saraf akar ventralis-serabut motorik. Antar satu serabut dengan serabut lainya sudah tentu memilki hubungan integrasi yang disebut sinaps. Dalam integrasi antar ujung-ujung saraf dalam sinaps tersebut ada tiga hal yang dimunculkan, yaitu diantaranya:

(1).  Summasi 
Terdiri dari sum-sum temporal yang berupa pengulangan impuls untuk dapat menimbullkan respon dan summasi spasial, yaitu dua atau lebih saraf eferen yang memberikan stimulus pada waktu yang sama untuk dapat memberikan respon.

(2).  Fasilitas 
Merupakan suatu proses penambahan eksitasi pada hubungan sinaps yang tidak memperlihatkan adanya summasi respon elektrik . Pada kondisi ini potensial pada portsinapsis akan meningkat.

(3).      Inhibiton 
Adalah proses penghambatan respon pada organ efektor (otot, kelenjar). Jika dilihat dari mekanismenya jalan rangsang, stimulus memiliki bentuk sinaps inhibitor (menghambat) dan sinaps eksitator (mempercepat). Misalnya stimulus dengan sinaps inhibitor adalah saat relaksasi sebagai respon dari adanya stimulus, sedangkan contoh sinaps eksitator adalah saat otot kontraksi respon adanya stimulus . Bentuk kedua respon pada anggota badan yang sama disebut dengan hambatan resiprikal. Contohnya adalah pada saat tempurung lutut dipukul dengan keras menggunakan garputala  (Widiastuti, 2002).

Sedangkan menurut (Kimball, 1983) refleks rentang memainkan sesuatu peranan penting namun agak sederhana dalam perilaku. Suatu otot terentang dan bereaksi dengan berkontraksi. Mesin refleks rentang memberikan mekanisme pengendalian yang teratur dengan baik yang mengarahkan kontraksi otot-otot antagonis dan secara terus-menerus memonitor keberhasilan dengan perintah-perintah dari otak yang diteruskan dan dengan cepat mampu melakukan penyesuaian.  


(Campbell, 2004), menyatakan bahwa molekul sinyal terikat pada protein reseptor, menyebabkan protein berubah bentuk. Sel yang menjadi target sinyal kimiawi tertentu memiliki molekul yang berupa protein reseptor yang akan mengenali molekul sinyal. Molekul sinyal ini mempunyai bentuk yang berkomplementer dengan tempat spesifik pada reseptor dan molekul ini terikat dengan tempat tersebut, seperti kunci pada gembok atau seperti subtrat dalam sisi katalik enzim. Molekul sinyal ini berperilaku seperti ligan, istilah untuk molekul kecil yang terikat secara spesifik pada molekul yang lebih besar. Pengikatan ligan ini umumnya menyebabkan protein reseptor mengalami perubahan konformasi, dengan kata lain berubah bentuk .Untuk Banyak reseptor, perubahan bentuk ini langsung mengaktifkan reseptor sehingga dapat berinteraksi dengan molekul seluler lainnya. Untuk jenis reseptor lain, seperti yang akan segera kita lihat, pengaruh yang segera dari pengikatan ligan ini lebih terbatas, terutama menyebabkan berkumpulnya dua atau lebih molekul. 

Sumber Referensi Pendukung:
  • Campbell, dkk.2004. Biologi . Jakarta: Erlangga.
  • Kimball,J.W.1983. Biologi jilid II. Jakarta: Erlangga.
  • Widiastuti,L.E.2002. Bahan Ajar Fisiologi Hewan 1. Bandarlampung: Universitas Lampung.


Powered by Blogger.